Malam itu sapaan angin lembut mengantarkan langkah kita ke Siera. Bukit indah dengan percikan cahaya bintang di langit lembang yang selalu ku rindukan. Aku juga selalu merindukan saat itu, saat dimana aku duduk dihadapanmu dengan pantulan cahaya lilin yang membuat suasana semakin hangat. I like this time, setiap detik yang kulihat hanya senyum manismu yang selalu melelehkan bekunya hati angkuhku.
Aku ingat, ketika aku mencoba makanan yang menurutku aneh, kamu hanya tertawa renyah dengan setiap celotehku, tapi sesungguhnya yang kurindukan hanya tawamu. Tawa yang mungkin takkan ku lihat lagi apalagi dengan jarak sedekat itu. Ah..Siera! Andai saja waktu bisa ku hentikan ketika itu, aku akan memelukmu dengan erat dan berharap takdir bisa membawa kita kedalam semua cerita indah yg kita inginkan.
Pemandangan temaramnya hamparan cahaya lampu kota bandung malam itu, semakin mengantarkan kita pada lamunan panjang tentang kebahagiaan. Kita saling melempar canda, yang sesungguhnya untuk menyembunyikan kesedihan masing-masing dari kita. Kita mempunyai rasa takut yang sama. Sama-sama takut kehilangan, sama-sama takut terpisah, dan sama-sama takut untuk menyadari kebenaran yang akan kita hadapi.
Waktu itu, hatiku yang selalu berpura pura kuat akhirnya rapuh. Ada getaran yang kurasakan pilu menyayat haru. Sesungguhnya, kebersamaan singkat ini tidak ingin ku lewati dengan begini rumitnya. Jikapun salah satu dari kita harus pergi, hati kita tetap bersama.
Jikapun salah satu dari kita tidak bisa bertahan, berjanjilah untuk tidak saling menyakiti. Karena pernah ada ribuan detik yang pernah bahagiakan kita. Meski salah satu dari kita harus berhenti berkhayal, tetapi aku yakin dongeng indah yang telah kita rangkai, akan menjadi bingkai pelangi yang mampu menyejukan setiap jiwa jiwa yang merasakan.
Ah..Siera! Aku selalu ingat tatapannya yang mengiris hati. Meski malam itu indah, bintang-bintang tersenyum merekah, dan langit kota yang cerah, tapi tidak dengan kedua hati kami. Ada ribuan sakit yang sebenarnya sedang kita rasakan, kepedihan tentang kenyataan dan sebuah pertemuan yang sesungguhnya untuk perpisahan.
Siera! Malam itu, kita sudah menyerah pada takdir. Kita akhirnya menerima apapun yang digariskan waktu. Meski berat, tapi peran kita dalam cerita indah ini sudah sangat hebat.
Kita berdua sudah berjuang keras untuk merubah keadaan, kita berdua pernah mencoba saling membahagiakan. Meski pahit, kita sadar inilah akhirnya.
Malam semakin larut, langkah kita pergi meninggalkan siera, seperti hati, jiwa dan raga kita, yang ikut pergi, hilang di kegelapan bersama impian impian kita tentang masa depan. Masing-masing dari kita saling merelakan kenyataan. Perpisahan ini harus kita terima, karena tidak mudah menghidupkan impian kita tentang kebersamaan.
Selamat tinggal untuk kamu. Hati kami sudah kami simpan di bukit siera agar bisa tersenyum berdua disana. Yang kami bawa adalah hati batu yang perasaannya sudah mati. Dan hati inilah yang kini sudah menerima perpisahan ini. Ingatlah, ada dua hati yang tertinggal bahagia di siera. Dan kita yang sekarang, yang terpisah ini, harus bahagia bersama ataupun tanpa hati kita itu.
Bandung, 2013