Alarm di Hpku berbunyi keras, aku tersentak dan seketika terbangun.
Ada tali keras melingkar di depan badanku dan ternyata seatbelt. Huft..
aku tersadar telah tertidur di mobil yang sedari malam tadi melesat
menuju Bandung. "Gimana tidurnya? Nyenyak? " Tanyanya. Aku hanya
melirik. " Ini sudah nyampe mana?" aku bertanya balik tanpa menjawab
pertanyaannya soal tidurku. "Kita udah di Bandung, tapi..." sebelum dia
melanjutkan jawabannya aku potong. "Tapi seperti biasa. Kamu masih
muter-mute nyari jalan ke Mesjid Agung hahhaa". Aku yang baru bangun
langsung menyindirnya dengan tertawa sinis. Belum lama kita bicara soal
"muter-muter" Bandung. Hpnya yang berwaran merah berdering. Dilanjutkan
dengan sapaan khasnya untuk rekan kerjanya yang dipastikan bakal bicara
lebih dari 5 menit. Itu tandanya fokus dia menyetir akan hilang 5 menit
karena tersita oleh percakapan di ponsel itu.
Aku hanya membetulkan dudukku dengan memajukan jok depan. Dari semenjak mobil itu melaju hingga tiba di Bandung, dia selalu sibuk dengan telepon-telepon "kerja"nya yang ku anggap dongeng sebelum tidur yang bisa mengantar kantukku.
Tidak lama aku menggoyang-goyangkan lengannya. Dia menoleh, dan aku menunjukan sebuah bangunan megah yang ada di kiri jalan. Bangunan yang mempunyai menara sangat tinggi dengan halaman yang luas. Aku memberi isyarat untuk berhenti. Akhirnya kita sampai di Masjid Agung Bandung yang indah.
Mobil telah terparkir di depan Masjid dan dia belum selesai berbicara dengan client nya. Perlahan ku lepas seatbelt. Kurapikan jilbab dan kulirik sekali lagi lelaki yang dari tadi asik dengan Hp di telinganya. Tangannya hanya melambai-lambai menyuruhku turun duluan.
Aku mulai kesal, kulangkahkan kakiku ke halaman masjid. Subhanallah... udara sejuknya menyapa. Disekitar masjid telah banyak orang-orang dengan kesibukannya. Aku lepas sandal dan turun ke tangga bawah untuk wudhu. Sungguh, rasa nyaman ini telah menawan hatiku, damai dan khusuk suasananya. Aku mensyukuri keindahan rumah Allah ini dengan beberapa raka'at di penghujung malam di Paris Van Java ini. Kuraih ponselku yang bergetar, kulihat nama yang sangat ku kenal di layar Hp. Aku beranjak dari sajadah cantik yang sedari tadi kududuki.
Setibanya di mobil, sudah tersedia beberapa bungkus makanan. Dia tersenyum manis dan bilang "Selamat sahur". Ku balas dengan senyuman sinis-seperti biasa.
Sambil makan dia mulai bicara. "kamu mau tinggal di Bandung ga? Enak yah di sini?"Tanyanya.
"Engga, aku mau tinggal di Luar negeri, belajar culture yg berbeda, nikmatin musim-musim yg berbeda, dan aku mau sesekali merasakan jadi muslim minoritas, katanya jadi muslim minoritas itu bisa menambah keimanan kita." jawabku panjang.
"Oh...yang rajin yah kuliahnya" sahutnya. Aku mengangguk sambil mengunyah makanan.
"Menurut kamu, aku egois ga sih kalau pengen mimpi aku yang tadi itu jadi nyata?" Tanyaku.
"Loh..egois apanya? Kamu tuh ya, kalo mimpi jangan cuma satu, jangan tanggung-tanggung. Hidupkan mimpi kamu itu, hidupkan hidup kamu dengan mimpi kamu. Engga ada yg bakal aku larang." Tandasnya.
Mataku berbinar, "aku kan perempuan?" Sanggahku.
"Ada aturan yg punya mimpi itu perempuan atau laki-laki? Tanya aja setiap kedutaan besar di indonesia, ada ga larangan perempuan pergi ke luar negeri?". Aku menggeleng. Dia meneruskan ucapannya.
"Kamu itu perempuan, kamu harusnya sekolah yang tinggi, cari pengalaman yang banyak, punya banyak relasi, banyak menjelejah luar rumah, karena apa? Karena kamu itu calon ibu, kamu yang akan menjadi madrasah pertama bagi mereka, yang akan lebih banyak mendampingi anak-anaknya di masa-masa pertumbuhan mereka.
"Seorang ibu adalah pendidik pertama dan utama untuk anak-anaknya, oleh karena itu, sebagai ibu kita perlu mengupgrade diri tiap hari agar bisa mendidik anak-anak sesuai dengan zaman di mana mereka hidup. Selain membuat mereka bangga, seorang ibu itu harus punya pengalaman utk kehidupan yg tidak biasa, harus dinamis, dan satu lagi, kamu harus bisa menularkan semangat bermimpi kamu". Jelasnya. Aku senyum.
Aku balik bertanya, " aku bisa ga yah jadi seorang ibu?"
"Kamu udah tau kan orang tua yg baik sama orang tua yang engga baik?" Aku mengangguk.
"Engga usah d sebutin, kamu pasti tau, yang jelas KITA TIDAK BISA MILIH MAU PUNYA ORANGTUA SEPERTI APA, tapi kita bisa menentukan MAU JADI ORANG TUA SEPERTI APA KITA NANTI" tutupnya sembari minum.
Aku hanya mendengar sambil mencerna setiap ucapannya, tangannya menyodorkan susu kesukaanku. "Abisin ya susunya" pinta dia.
Perbincangan kita di tutup dengan kumandang adzan subuh. Kita bergegas berjamaah sholat subuh dan setelah itu kita akan melanjutkan perjalanan ke arah Sukajadi utk kesuatu acara.Seperti biasa, sepanjang jalan dia menyetir sambil terima telpon dan aku sibuk menengok ke luar jendela dengan tetap menumpukkan mimpi mimpiku yang banyak. Setidaknya, ucapan di sahur tadi sudah membuatku bangkit dari fikiran salah yg selalu memojokan diriku yg notabenenya-perempuan.
Pasangan, pernikahan, dan mimpi kita tetap bisa berjalan beriringan. Hubungan sejatinya berguna utk membangun sesuatu yang susah payah di bangun sendiri. Hubungan seharusnya bisa menjadi cambuk dukungan yang akan mempermudah kita meraih semua yg kita inginkan.
Ah Bandung, bukan aku tidak mau tinggal lama disini, tapi masih banyak tanah-tanah cantik di dunia ini yg belum ku singgahi.
Aku hanya membetulkan dudukku dengan memajukan jok depan. Dari semenjak mobil itu melaju hingga tiba di Bandung, dia selalu sibuk dengan telepon-telepon "kerja"nya yang ku anggap dongeng sebelum tidur yang bisa mengantar kantukku.
Tidak lama aku menggoyang-goyangkan lengannya. Dia menoleh, dan aku menunjukan sebuah bangunan megah yang ada di kiri jalan. Bangunan yang mempunyai menara sangat tinggi dengan halaman yang luas. Aku memberi isyarat untuk berhenti. Akhirnya kita sampai di Masjid Agung Bandung yang indah.
Mobil telah terparkir di depan Masjid dan dia belum selesai berbicara dengan client nya. Perlahan ku lepas seatbelt. Kurapikan jilbab dan kulirik sekali lagi lelaki yang dari tadi asik dengan Hp di telinganya. Tangannya hanya melambai-lambai menyuruhku turun duluan.
Aku mulai kesal, kulangkahkan kakiku ke halaman masjid. Subhanallah... udara sejuknya menyapa. Disekitar masjid telah banyak orang-orang dengan kesibukannya. Aku lepas sandal dan turun ke tangga bawah untuk wudhu. Sungguh, rasa nyaman ini telah menawan hatiku, damai dan khusuk suasananya. Aku mensyukuri keindahan rumah Allah ini dengan beberapa raka'at di penghujung malam di Paris Van Java ini. Kuraih ponselku yang bergetar, kulihat nama yang sangat ku kenal di layar Hp. Aku beranjak dari sajadah cantik yang sedari tadi kududuki.
Setibanya di mobil, sudah tersedia beberapa bungkus makanan. Dia tersenyum manis dan bilang "Selamat sahur". Ku balas dengan senyuman sinis-seperti biasa.
Sambil makan dia mulai bicara. "kamu mau tinggal di Bandung ga? Enak yah di sini?"Tanyanya.
"Engga, aku mau tinggal di Luar negeri, belajar culture yg berbeda, nikmatin musim-musim yg berbeda, dan aku mau sesekali merasakan jadi muslim minoritas, katanya jadi muslim minoritas itu bisa menambah keimanan kita." jawabku panjang.
"Oh...yang rajin yah kuliahnya" sahutnya. Aku mengangguk sambil mengunyah makanan.
"Menurut kamu, aku egois ga sih kalau pengen mimpi aku yang tadi itu jadi nyata?" Tanyaku.
"Loh..egois apanya? Kamu tuh ya, kalo mimpi jangan cuma satu, jangan tanggung-tanggung. Hidupkan mimpi kamu itu, hidupkan hidup kamu dengan mimpi kamu. Engga ada yg bakal aku larang." Tandasnya.
Mataku berbinar, "aku kan perempuan?" Sanggahku.
"Ada aturan yg punya mimpi itu perempuan atau laki-laki? Tanya aja setiap kedutaan besar di indonesia, ada ga larangan perempuan pergi ke luar negeri?". Aku menggeleng. Dia meneruskan ucapannya.
"Kamu itu perempuan, kamu harusnya sekolah yang tinggi, cari pengalaman yang banyak, punya banyak relasi, banyak menjelejah luar rumah, karena apa? Karena kamu itu calon ibu, kamu yang akan menjadi madrasah pertama bagi mereka, yang akan lebih banyak mendampingi anak-anaknya di masa-masa pertumbuhan mereka.
"Seorang ibu adalah pendidik pertama dan utama untuk anak-anaknya, oleh karena itu, sebagai ibu kita perlu mengupgrade diri tiap hari agar bisa mendidik anak-anak sesuai dengan zaman di mana mereka hidup. Selain membuat mereka bangga, seorang ibu itu harus punya pengalaman utk kehidupan yg tidak biasa, harus dinamis, dan satu lagi, kamu harus bisa menularkan semangat bermimpi kamu". Jelasnya. Aku senyum.
Aku balik bertanya, " aku bisa ga yah jadi seorang ibu?"
"Kamu udah tau kan orang tua yg baik sama orang tua yang engga baik?" Aku mengangguk.
"Engga usah d sebutin, kamu pasti tau, yang jelas KITA TIDAK BISA MILIH MAU PUNYA ORANGTUA SEPERTI APA, tapi kita bisa menentukan MAU JADI ORANG TUA SEPERTI APA KITA NANTI" tutupnya sembari minum.
Aku hanya mendengar sambil mencerna setiap ucapannya, tangannya menyodorkan susu kesukaanku. "Abisin ya susunya" pinta dia.
Perbincangan kita di tutup dengan kumandang adzan subuh. Kita bergegas berjamaah sholat subuh dan setelah itu kita akan melanjutkan perjalanan ke arah Sukajadi utk kesuatu acara.Seperti biasa, sepanjang jalan dia menyetir sambil terima telpon dan aku sibuk menengok ke luar jendela dengan tetap menumpukkan mimpi mimpiku yang banyak. Setidaknya, ucapan di sahur tadi sudah membuatku bangkit dari fikiran salah yg selalu memojokan diriku yg notabenenya-perempuan.
Pasangan, pernikahan, dan mimpi kita tetap bisa berjalan beriringan. Hubungan sejatinya berguna utk membangun sesuatu yang susah payah di bangun sendiri. Hubungan seharusnya bisa menjadi cambuk dukungan yang akan mempermudah kita meraih semua yg kita inginkan.
Ah Bandung, bukan aku tidak mau tinggal lama disini, tapi masih banyak tanah-tanah cantik di dunia ini yg belum ku singgahi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar