Blinking Cute Box Cat

Kamis, 30 April 2015

Celoteh subuh di Paris Van Java

Alarm di Hpku berbunyi keras, aku tersentak dan seketika terbangun. Ada tali keras melingkar di depan badanku dan ternyata seatbelt. Huft.. aku tersadar telah tertidur di mobil yang sedari malam tadi melesat menuju Bandung. "Gimana tidurnya? Nyenyak? " Tanyanya. Aku hanya melirik. " Ini sudah nyampe mana?" aku bertanya balik tanpa menjawab pertanyaannya soal tidurku. "Kita udah di Bandung, tapi..." sebelum dia melanjutkan jawabannya aku potong. "Tapi seperti biasa. Kamu masih muter-mute nyari jalan ke Mesjid Agung hahhaa". Aku yang baru bangun langsung menyindirnya dengan tertawa sinis. Belum lama kita bicara soal "muter-muter" Bandung. Hpnya yang berwaran merah berdering. Dilanjutkan dengan sapaan khasnya untuk rekan kerjanya yang dipastikan bakal bicara lebih dari 5 menit. Itu tandanya fokus dia menyetir akan hilang 5 menit karena tersita oleh percakapan di ponsel itu.

Aku hanya membetulkan dudukku dengan memajukan jok depan. Dari semenjak mobil itu melaju hingga tiba di Bandung, dia selalu sibuk dengan telepon-telepon "kerja"nya yang ku anggap dongeng sebelum tidur yang bisa mengantar kantukku.
Tidak lama aku menggoyang-goyangkan lengannya. Dia menoleh, dan aku menunjukan sebuah bangunan megah yang ada di kiri jalan. Bangunan yang mempunyai menara sangat tinggi dengan halaman yang luas. Aku memberi isyarat untuk berhenti. Akhirnya kita sampai di Masjid Agung Bandung yang indah.

Mobil telah terparkir di depan Masjid dan dia belum selesai berbicara dengan client nya. Perlahan ku lepas seatbelt. Kurapikan jilbab dan kulirik sekali lagi lelaki yang dari tadi asik dengan Hp di telinganya.  Tangannya hanya melambai-lambai menyuruhku turun duluan.


Aku mulai kesal, kulangkahkan kakiku ke halaman masjid. Subhanallah... udara sejuknya menyapa. Disekitar masjid telah banyak orang-orang dengan kesibukannya. Aku lepas sandal dan turun ke tangga bawah untuk wudhu. Sungguh, rasa nyaman ini telah menawan hatiku, damai dan khusuk suasananya. Aku mensyukuri keindahan rumah Allah ini dengan beberapa raka'at di penghujung malam di Paris Van Java ini. Kuraih ponselku yang bergetar, kulihat nama yang sangat ku kenal di layar Hp. Aku beranjak dari sajadah cantik yang sedari tadi kududuki.

Setibanya di mobil, sudah tersedia beberapa bungkus makanan. Dia tersenyum manis dan bilang "Selamat sahur". Ku balas dengan  senyuman sinis-seperti biasa.
Sambil makan dia mulai bicara. "kamu mau tinggal di Bandung ga? Enak yah di sini?"Tanyanya.
"Engga, aku mau tinggal di Luar negeri, belajar culture yg berbeda, nikmatin musim-musim yg berbeda, dan aku mau sesekali merasakan jadi muslim minoritas, katanya jadi muslim minoritas itu bisa menambah keimanan kita." jawabku panjang.
"Oh...yang rajin yah kuliahnya" sahutnya. Aku mengangguk sambil mengunyah makanan.
"Menurut kamu, aku egois ga sih kalau pengen mimpi aku yang tadi itu jadi nyata?" Tanyaku.

"Loh..egois apanya? Kamu tuh ya, kalo mimpi jangan cuma satu, jangan tanggung-tanggung. Hidupkan mimpi kamu itu, hidupkan hidup kamu dengan mimpi kamu. Engga ada yg bakal aku larang." Tandasnya.
Mataku berbinar, "aku kan perempuan?" Sanggahku.
"Ada aturan yg punya mimpi itu perempuan atau laki-laki? Tanya aja setiap kedutaan besar di indonesia, ada ga larangan perempuan pergi ke luar negeri?". Aku menggeleng. Dia meneruskan ucapannya.
"Kamu itu perempuan, kamu harusnya sekolah yang tinggi, cari pengalaman yang banyak, punya banyak relasi, banyak menjelejah luar rumah, karena apa? Karena kamu itu calon ibu, kamu yang akan menjadi madrasah pertama bagi mereka,  yang akan lebih banyak mendampingi anak-anaknya di masa-masa pertumbuhan mereka.
"Seorang ibu adalah pendidik pertama dan utama untuk anak-anaknya, oleh karena itu, sebagai ibu kita perlu mengupgrade diri tiap hari agar bisa mendidik anak-anak  sesuai dengan zaman di mana mereka hidup. Selain membuat mereka bangga, seorang ibu itu harus punya pengalaman utk kehidupan yg tidak biasa, harus dinamis, dan  satu lagi, kamu harus bisa menularkan semangat bermimpi kamu". Jelasnya. Aku senyum. 
Aku balik bertanya, " aku bisa ga yah jadi seorang ibu?" 
"Kamu udah tau kan orang tua yg baik sama orang tua yang engga baik?" Aku mengangguk. 
"Engga usah d sebutin, kamu pasti tau, yang jelas KITA TIDAK BISA MILIH MAU PUNYA ORANGTUA SEPERTI APA, tapi kita bisa menentukan MAU JADI ORANG TUA SEPERTI APA KITA NANTI" tutupnya sembari minum.

Aku hanya mendengar sambil mencerna setiap ucapannya, tangannya menyodorkan susu kesukaanku. "Abisin ya susunya" pinta dia.
Perbincangan kita di tutup dengan kumandang adzan subuh. Kita bergegas berjamaah sholat subuh dan setelah itu kita akan melanjutkan perjalanan ke arah Sukajadi utk kesuatu acara.Seperti biasa, sepanjang jalan dia menyetir sambil terima telpon dan aku sibuk menengok ke luar jendela dengan tetap menumpukkan mimpi mimpiku yang banyak. Setidaknya, ucapan di sahur tadi sudah membuatku bangkit dari fikiran salah yg selalu memojokan diriku yg notabenenya-perempuan.

Pasangan, pernikahan, dan mimpi kita tetap bisa berjalan beriringan. Hubungan sejatinya berguna utk membangun sesuatu yang susah payah di bangun sendiri. Hubungan seharusnya bisa menjadi cambuk dukungan yang akan mempermudah kita meraih semua yg kita inginkan. 
Ah Bandung, bukan aku tidak mau tinggal lama disini, tapi masih banyak tanah-tanah cantik di dunia ini yg belum ku singgahi.

















Rabu, 08 April 2015

Sahabat

Dalam hidup ada orang yg dikirim Tuhan utk singgah dalam cerita kita. Lama atau sebentar. Baik atau tidak. Perempuan atau laki-laki. Menyenangkan atau menyedihkan. Semua hanya kriteria yg diciptakan secara sengaja oleh sang pencipta. 
Ada orang-orang yg sempat jadi orang yg paling kita percaya selama beberapa lama. Ada orang yg tiba-tiba benci dengan semua hal yg kita lakukan. Ada juga orang yg tidak kita inginkan hadir utk menjatuhkan semangat kita. 
Apa yg kamu fikirkan tentang mereka? Apakah mereka menguntungkan utk hidupmu? Apakah mereka tidak begitu penting karena hanya memberikan cerita pahit? Atau kamu berfikir kenapa kmu bisa kenal mereka?
Tapi apakah kamu tau? Tuhan telah mengatur sedemikian rupa skenario dan alur cerita hidupmu utk membuat kamu mengerti. Tuhan mengirimkan orang-orang yg bisa membuat kamu tersenyum dan tertawa supaya kamu mengerti pentingnya kebahagiaan. Tuhan juga me"mampirkan" orang yg membuat kamu menangis dan sakit hati supaya kamu terbiasa melewati kepahitan, airmata, dan artinya kepedihan.
Tidak ada yg kebetulan, tidak ada yg tidak sengaja. Semua sudah dicatat dan direncanakan oleh Tuhan bahkan sebelum kamu lahir. Apa yg bisa kita lakukan? Hanya menjalankan peranmu sebaik mungkin. Jadilah peran yg disukai, peran yg selalu bisa membuat orang lain bahagia, dan peran yg bisa menyikapi lawan main yg tidak diharapkan. 
Seiring waktu berlalu, orang-orang akan tetap seperti itu. Entah yg baik atau tidak,  mereka akan datang silih bergantian, berbeda-beda setiap waktu terus menerus sesuai apa yg sudah direncanakan Tuhan. 
Tetapi ada orang-orang yg tetap ada dihidupmu, setia dengan kisahmu, bertahan dengan perubahan hidupmu, mereka bisa mempunyai ke 2 peran yg berbeda. Sebagai orang yg mengingatkanmu ketika kmu salah dan sebagai orang yg selalu support apapun yg kamu inginkan meskipun harus meninggalkannya. Dalam waktu yg lama, dalam cerita pahit dan manismu.
Dialah sahabat. Orang yg sudah disediakan Tuhan utk senantiasa mengingatkanmu arti hidupmu, orang yg akan selalu membuatmu bersyukur, dan dia akan siap kapan saja mendengarkan keluh kesahmu, dan menasehatimu dimanapun kamu berada.
Dialah sahabat, jauh ataupun dekat, Sahabat tetaplah Sahabat.